Senin, 10 Juni 2013

Menikmati tanpa memiliki, memiliki tanpa membeli


"Banyak hal yang tak bisa kami beli. Tapi kami diberi kesempatan menikmatinya tanpa harus membayar sepeser pun"

Bapak dan ibu adalah PNS di daerah. Jangan tanya berapa gajinya, apalagi asetnya dan jangan tanya pula bagaimana perjuangannya. Di awal pernikahan bahkan keduanya harus menjalani hubungan jarak jauh Purworejo – Magelang. Hanya seminggu sekali bertemu. Saya pun ikut merasakannya. Jika akhir pekan tiba, saya akan merengek minta gendong menuju empang di pinggir jalan kampung dimana saya biasa menunggu bapak datang. Yah, jaman dahulu untuk bisa pindah ke kota yang diinginkan prosesnya tidak mudah. Ibu tidak bisa serta merta pindah ke Magelang seusai menikah. Akhirnya pilihan untuk menjalani LDR pun ditempuh. Ibu tetap mengajar di sebuah SMP di Purworejo dan bapak tetap berkarir di Pemerintah Kota Magelang. Sampai pada akhirnya, ibu bisa pindah bersamaan dengan lahirnya adik saya. Mungkin ini keberuntungan yang dibawa adik saya ya. Kata orang, bayi biasanya bawa hoki. Dan yang lebih hoki lagi kami langsung tinggal di rumah baru. Masih gress. Sebuah perumahan mungil. RSS. Rumah Sangat Sederhana. Cocok untuk kami yang masih keluarga baru. Rumah bertipe 36 dengan dua kamar, satu kamar mandi, dapur yang seuplik dan ruang tamu yang merangkap ruang keluarga. Kami bebas tinggal di rumah itu. Bebas menghuni tanpa harus membeli atau membayar kontrakan per tahunnya.
Itulah berkah. Saya yakin bapak dan ibu tak punya uang untuk membeli rumah saat itu. Menyicil pun tak sanggup saya rasa. Wong mau beli kendaraan saja ngutang ke simbah. Jika mau tinggal di rumah simbah (orangtuanya bapak) sebetulnya bisa saja, tapi kami justru ditawari tinggal di rumah baru. Rumah itu adalah rumahnya pakde. Pakde saya seorang pelaut. TNI AL. Bertugas di Surabaya. Pakde bisa nyicil rumah itu (walaupun dengan susah payah, maklum masih pada meniti karir soalnya) tapi pakde dan keluarga tak bisa menempatinya. Akhirnya kami yang diminta untuk menempati rumah itu. Mau direnovasi boleh. Diapa-apakan boleh. Asal tidak dijual. Hahahaha.
Kurang lebih sepuluh tahun kami menempati rumah itu. Dari kondisi gress sampai kusennya lapuk kena rayap. Dari kondisi asli sampai direnovasi. Merenovasinya juga menyicil. Pertama bagian belakangnya dulu. Bikin dapur dan tempat cuci piring, cuci baju. Tarik napas. Terus bikin taman dan garasi depan. Itu juga bikinnya bertahun-tahun setelah menempati rumah tersebut. Nunggu punya uang dulu disesuaikan dengan kebutuhan.
Sebetulnya, bapak dan ibu pernah meminta pakde untuk menjual rumah tersebut pada kami. Yaa soalnya sudah bertahun-tahun disana. Sudah kerasan. Kami juga tidak enak jika menempati tanpa membayar. Walaupun nyatanya enak juga sih. Gak kelimpungan tiap tahun mikirin kontrakan. Hahaha. Oya dulu, sampai-sampai saya ikut ditumbalkan bapak lho, suruh matur pada pakde untuk mau jual rumah ini. Tapi pakde menolak. Kata pakde rumah itu punya nilai historis. Aset pertama yang bisa dibeli pakde. Apalagi nyicilnya juga dalam keadaan susah. Well mungkin memang jodoh kami dengan rumah ini hanya sampai 10 tahun saja dan kami akhirnya pindah.
Tinggal disana tanpa harus memikirkan kontrakan sedikit memberi ruang pada bapak ibu untuk menabung. Alhamdulillah, seiring dengan berjalannya waktu, karir bapak makin bagus. Bapak dan ibu bisa membeli rumah tua yang letaknya di dekat rumah mbah ti dan mbah kung. Bapak yang menginginkan tinggal disana. Katanya agar bisa dekat dengan orang tua tapi tetap mandiri. Rumah itu kemudian direnovasi dan buru-buru ditempati karena bapak mau pergi haji. Dan pengennya, kalau berangkat nanti walimatussafarnya di rumah sendiri.

Duit dari mana bisa pergi haji????

Bapak jelas tidak punya duit untuk berhaji. Dan saat itu belum terpikir untuk berhaji. Itu kebutuhan tersier bagi kami. Bapak bisa berangkat haji karena ditawari jadi petugas penyelenggara haji.  Dan gratis tis tis. Sebetulnya itu tawaran yang ketiga. Tawaran pertama dan kedua ditampik. Maklum bapak masih keinget dosa. Dulunya bandel. Sholatnya masih bolong-bolong kala itu. Hahhaa. Takut kena karma. Trus atasannya bapak bilang begini: Kalau kamu nggak ambil tawaran ini, bisa-bisa kamu nggak dikasih kesempatan buat berhaji lho! Langsung deh bapak insyaf. Ngangguk gitu aja. Dan jadi berangkat. Sekali lagi bapak tak perlu membayar se sen pun.

Oya balik lagi soal rumah. Rumah lama kami, yang sepuluh tahun kami tempati itu jaraknya cukup jauh dari kota. Mungkin sekitar 7 km dari kota. Padahal saya bersekolah di kota. Ibu mengajar di kota. Kantor Bapak lebih jauh lagi. Setiap hari kami nglaju Secang  - Magelang. Berbekal baju, sandal, rantang, dan buku. Waktu itu bapak mendapat inventaris motor alfa camp. Bayangkan, motor kecil itu ditumpangi orang empat dengan bawaan berupa-rupa tas. Tas isi baju, tas berisi sandal, rantang isi nasi dan lauk. Untung saat itu size kami tak sebesar sekarang. Bapak ibu masih kurus-kurus. Anak-anaknya lebih-lebih lagi. Saya dan adik saya kena flek karena nglaju tiap hari dalam keadaan dingin. Beruntung, adik cuma kena minum obat merah pekat dan biru tua selama setahun saja. Lha saya, dua tahun harus minum obat memuakkan itu.
Karena melihat kondisi kami, dan mungkin juga karena bapak tak lagi dapat inventaris motor, bapak beli sebuah mobil. That’s why akhirnya rumah pinjeman pakde direnovasi, ditambahin garasi. Jangan bayangkan mobil baru! Mewah dan kinclong. Yang ada mobil tua namanya minicab. Mobilnya mungil. Warnanya putih. Mobil tua. Tuaaaa banget. Sampai-sampai kalau mau berangkat kami harus dorong mobil itu dulu. Tapi tua-tua begitu berjasa juga lho buat ngangkutin anak tetangga yang sekolahnya searah dengan kami. Tiap pagi saya dan anak-anak tetangga naik mobil ini. Disopirin bapak. Sampai sekolah A ibu turun, nyebrangin anak-anak. Kadang ada yang belom bikin pe-er. Bikinnya di mobil.
seperti ini kira2 mobil pertama kali kami dulu

Tapi karena performanya sudah tidak maksimal, bapak ganti mobil lagi. Jangan bayangkan yang lebih bagus. Yang penting rodanya empat. Ada atapnya. Nggak rembes kalau hujan. Mobil baru kami hijet 1000. Warnanya biru. Kata bapak dulu belinya tiga juta. Catnya ngelupas disana sini. Jujur, dulu maluuu sekali kalau dianter bapak naik mobil ini ke sekolah. Saya bilang gitu dimarahin deh sama bapak terus suruh berangkat sendiri. Jiaaah. Jauh mamen! Tapi setelah didempul sana sini. Diganti semua joknya, plavonnya, bannya, jadi baru lagi deh. Yah minimal tampilannya nggak sebelas dua belas sama kendaraan tukang sampah deh. Hehe. Mobil ini juga tetap berjasa nganterin anak-nak sekolah setiap harinya.

mobil kedua kami, tapi yang kami punya warnanya biru
Dunia berubah di suatu sore. Saya ketemu bapak di jalan. Bapak bawa mobil gress!!! Baru banget!. Espass. Waktu itu saya kelas 5 SD tahun 2000an. Beneran gres masih baru keluar dari dealer. Kacanya juga masih kayak akuarium. Belum ribben. Joknya masih ada plastiknya. Ya Allah berasa mimpi! Kami punya mobil baru!!! Hahaha gak punya ding, hanya dipinjamkan dalam jangka waktu tertentu. Kami hanya diminta merawat dan digunakan semestinya. Mobil rakyat tuuuh. Tapi kan saya juga rakyat. Bayar pajak juga. Ini rezeki bung! ^^
Lantas nasib si hijet gimana tuh? Si hijet dialihfungsikan jadi mobil carteran. Alhamdulillah masih ada yang mau nyarter. Hehe. Lumayan buat tambahan jajan om saya.
Well, mobil espass itu, si warna biru itu, menemani keluarga kami selama hampir 8 tahun. Dia turut mengantarkan saya lomba ke temanggung dan kebumen sewaktu jaman-jaman porseni SD dulu. Espass ini juga tetap seperti pendahulunya, mengantarkan anak-anak sekolah, tetangga-tetangga kami ke sekolahnya masing-masing. Dulunya hanya satu SD, setelah hadirnya espass jadi merambah ke berbagai sekolah. Ya gak papa lah, asal sejalur, kami angkut. Berapapun anak, asal masih cukup tempat duduk, kami angkut. Bapak naik haji juga naik mobil ini. Kami pindah rumah juga nyicil ngangkutinnya pakai mobil itu. Ahhh pokoknya banyak sekali kenangan dengan mobil ini. Sampai kecelakaan juga pernah. Muka depannya peyok kena mbah-mbah yang menyebrang. Trus sampai sekarang warna depannya jadi beda sendiri.
Tanya dong siapa yang ngelapin tiap hari?
Saya dong yang ngelap tiap hari. Hahaha. Karena kalau nggak dilap bapak nggak mau mengantar.
Setelah delapan tahun bersama, kami harus melepas espass kesayangan kami. #gimana gak sayang, adanya juga cuma itu. Hhe. Bapak dapat mobil baru! Gress. Avanza cuy! Tahun 2008 saat itu lagi booming-boomingnya mobil avanza. Warnanya silver. Dapatnya ketika saya kelas 3 SMA kalau tidak salah. Waktu itu saya surprise banget. Bapak menjemput saya pake avanza baru di tempat simbah di Purworejo. Sepanjang perjalanan purworejo – magelang saya senyam senyum norak. Sama noraknya seperti kelas lima SD dulu, waktu naik mobil espass pertama kali. Hhaha. Mobil ini ikut menemani kisah masuk kuliah saya yang norak. Ujian Masuk dan daftar ulang bawa orang sekampung naik avanza. Semacam piknik. Kalau ingat, duuuh betapa nggilaninya saya. Hahaha.
Tidak sampai hitungan tahun, avanza digantikan mobil lain lagi. Bapak saya naik pangkat. Dipindah ke kantor baru. Mobilnya ganti lagi. Tapi bukan mobil baru. Biar gitu, masih sangat bagus. Kijang LGX. Mobil ini yang selalu mengantarkan saya pulang ke jogja jaman kuliah dulu. Mobil ini juga yang menjadi saksi dahsyatnya letusan Merapi 2010. Saat itu, bapak dan ibu pergi haji. Tiap kamis ada pengajian di rumah. Rabunya saya nekat pulang karena tidak ada ujian. Niatnya jumat pagi balik lagi ke jogja. Saya benar-benar balik jogja jumat pagi itu karena ada ujian kode etik. Dan di jalan, saya tidak tahu kalau jalanan luluh lantak sementara saya masih sibuk sms-an dengan teman tanya materi ujian. Sampai kos sudah heboh. Teman-teman mau mengungsi. Mbak Ana nangis, rumahnya entah jadi apa. Debunya menggila. Sampai di kampus ternyata ujian dibatalkan. Sial! Saya terjebak di jogja. Beritanya sudah tak karu-karuan. Saya akhirnya dijemput sopirnya bapak. Saya bawa siapa aja yang bisa saya bawa. Tapi hanya Ajeng yang ikut. Yang lain memilih naik motor, menyelamatkan motor untuk dibawa ke tempat yang aman. Sampai sekarang kalau tahu merapi mau meletus saya trauma! Mobil ini juga yang selalu jadi angkutannya para santri. Tiap selapan hari, bapak mengundang santri untuk ngaji di rumah. Biasanya sih sepuluh orang. Umpek-umpekan di mobil. Tapi ya cukup-cukup aja tuh. Mereka seneng banget kalau di rumah. Sudah seperti rumah sendiri katanya.
Juni 2012, Bapak dapat mobil baru. VIOS terbaru!!! Saya wisuda diangkut VIOS men. Itu berkah banget kan. Mobil ini bahkan boleh diganti plat hitam dan itu tidak melanggar hukum. Saik kan? Sudah seperti mobil pribadi ajah. Hehehe.

Rumah, mobil dan haji gratis yang kami terima adalah rezeki yang Allah alirkan pada kami. Tentu saya dan keluarga begitu mensyukurinya. Saat bapak dan ibu tidak kuat membeli rumah, mengontrak juga pasti ngos-ngosan saat itu, Allah kirim rumah gratis. Begitu waktunya tepat, Allah ijinkan kami menempati rumah baru yang lebih bagus dan layak. Begitu juga dengan mobil, kami tidak bisa beli mobil bagus. Allah pinjamkan mobil tanpa harus membeli. Bahkan selalu diupdate setiap ada keluaran terbaru. Sebagai PNS daerah, bapak mana punya cukup duit untuk beli mobil. Pernah suatu ketika saya bilang begini: mbok kalau mau beli mobil itu beli mobil yang baru pak. Bapak menjawab: ha mbok sampai pensiun, nggak bisa beli nduk. Yaitulah Bapak. Saya bangga dengan Bapak. Meski hidup kami pas-pasan tapi Bapak insyaallah bersih dari korupsi. Insyaallah rezeki yang mengalir dalam tubuh anak-anaknya adalah uang halal sehingga kami bisa menikmati yang namanya berkah. Saya rasa kehidupan kami semakin membaik setelah Bapak naik haji gratis itu. Subhanallah nikmat Allah untuk kami luar biasa. Perekonomian kami membaik. Kehidupan spiritual kami pun jauh lebih baik. Begitupun prasangka orang terhadap kami, mungkin kami dikira orang kaya kali ya. Bisa beli mobil bagus. Padahal dipinjemin doang. Gak kuat beli sendiri. Ahaha.
Betapa nikmat, jika memiliki tanpa harus membeli....


Tidak ada komentar:

Posting Komentar